Terdampar di Keriuhan Flower Market dan Khaosan Road, Bangkok

Hujan deras yang mengguyur Bangkok ditambah wisatawan-hari-minggu yang berdesakkan memaksa kami untuk menahan langkah memasuki Grand Palace. Setelah kami berteduh di sebuah museum merah, hujan sempat reda sejenak, namun lalu turun kembali saat kami tiba di depan Istana dan terus bertahan hingga puluhan menit kemudian.

Gue yang tadinya hanya berteduh di bawah atap sempit pos penjaga Grand Palace bagian luar, akhirnya menyerah dan melipir ke sebuah toko kue di seberang Istana sambil menunggu koh Donny — rekan perjalanan dari Jakarta — dan Dicky yang menghilang entah ke mana. Setelah hujan reda dan kami bertiga dipertemukan, kami lalu makan siang dan naik tuktuk (100 THB) ke penginapan, menerobos hujan angin yang kembali menyerang.

 

SUPERTRIP  2 Eps. 3: Terdampar di Keriuhan Flower Market dan Khaosan Road, Bangkok

 

Lepas beristirahat dan membersihkan diri di Born Free Hostel, Samsen Road Soi 6, kami bertiga memutuskan — oke, gue aja sih, yang dua lainnya ngikut aja — untuk pergi ke Phahurat Road, Chinatown-nya Bangkok. Dari bus stop Banglamphu yang berada di dekat hostel, kami naik bus 82 menuju Phahurat. Nggak ada ongkos alias gratis, mungkin karena bus tua dan saat itu hari Minggu.

Kami lalu turun di sebuah jalan yang, menurut pengamatan gue dari balik jendela bus, adalah Phahurat Road. Tapi entahlah, kami nggak menemukan deretan warung pinggir jalan atau lentera warna-warni yang bergelantungan seperti yang ditampilkan di mesin pencari orang hilang. Mungkin kami salah jalan. Mungkin kami salah arah.

Lalu, dengan dipimpin oleh rahmat blogger abal-abal yang maha sok mengetahui, kami berjalan lurus sampai mencapai sebuah monumen. Di sebelah kanan, kami melihat sebuah jalan yang tampak semarak dan orang-orang lokal yang hilir mudik. Ah, mungkin di situ pusat denyut nadi chinatown ini.

Didorong oleh rasa ingin tahu, kami menghampiri jalan tersebut, memasuki kerumunan warga kota. Jalanan itu, Chakphet Road, diapit oleh lapak-lapak pedagang bunga dengan aroma yang menguar, membabat habis badan trotoar. Menyisakan sebuah celah sempit di antara lorong-lorong perdagangan di bawah naungan kain-kain penutup untuk para pejalan kaki dan para calon pembeli. Di belakang kaum pedagang bunga kaki lima, kalangan pedagang yang lebih mampu membangun toko-toko mungilnya yang berdiri sempit setinggi dua atau tiga lantai.

Jalanan Flower Market, yang dikenal dengan nama lokal Pak Khlong Talad, tampak hidup dengan pria-pria muda perkasa yang bekerja sebagai penarik gerobak. Membawa bertumpuk-tumpuk bunga dalam gerobak yang ditariknya, hilir mudik melalui jalanan Chakphet Road di antara kendaraan bermotor dan bus-bus tua. Gue salut. Meski di antara mereka sebenarnya memiliki penampilan menarik, tapi mereka sama sekali nggak gengsi bergumul dengan noda dan gerobak kusam dan menarik seabrek bunga dagangan.

Pak Khlong Talad merupakan pasar dan grosiran bunga terbesar di Bangkok. Menempati kawasan kota tua Bangkok, Flower Market semakin semarak saat malam tiba, khususnya saat dini hari. Ragam bunga seperti mawar, anggrek, lili, crysantheum, dan masih banyak lagi, diperjualbelikan di sepanjang Thanon Chakphet, tak jauh dari Wat Pho dan Phahurat Road.

Mendekati ujung jalan, kami menemukan beberapa vendor pedagang makanan jalanan (street food) yang mayoritas menjual makanan non-halal. Ada juga yang menjual jajanan dari buah.

Kami lalu memilih untuk makan malam di sebuah warung makanan tionghoa di ujung jalan, tepat di sebuah persimpangan. Kami kompak memesan semangkuk mie dengan irisan-irisan daging babi seharga 35 THB. Harganya masih berada di kisaran harga makanan rata-rata di Bangkok, beda dengan harga makanan di kedai di depan Grand Palace yang harga makanannya berada di kisaran mulai 70-an THB.

Selesai makan malam dan menyusuri kembali jalanan Chakphet, kami masih mencoba berusaha mencari keberadaan Phahurat Road yang gue inginkan. Namun, jalan-jalan di sekitar Flower Market tampak lengang saat itu, jauh dari gambaran sebuah pecinan yang biasa semarak dengan makanan pinggir jalan dan lampu warna-warni. Sepertinya, pasar bunga menjadi satu dari segelintir titik paling hidup di kawasan kota tua Bangkok.

Gue sendiri mengetahui tentang pecinan Phahurat Road dari buku Lonely Planet. Sayangnya, bukunya nggak gue bawa, gue pinjamkan ke salah satu kawan yang seharusnya juga berada di Bangkok saat ini (kawan ini seharusnya berangkat lebih dulu ke Bangkok seminggu sebelumnya). Sayangnya, paspornya hilang di bandara Kuala Lumpur, sehingga perjalanannya menuju Bangkok harus dibatalkan.

Lelah, kami akhirnya kembali ke jalanan semula dan menyewa jasa tuktuk (80 THB) untuk mengantarkan kami ke Khaosan Road.

Sesaat kemudian, kami sudah tiba di Khaosan Road, kawasan backpacker terkemuka di Bangkok, Thailand. Berbeda dengan Flower Market yang dipenuhi denga warga lokal Bangkok dengan segala kesederhanaannya, pribumi menjadi minoritas di tengah sesaknya Thanon Khaosan. Mereka berjaga di tepi jalan, menjajakan kaos dan aksesoris. Menggoda turis dengan kuliner Thailand yang eksotis. Menggoyahkan iman para pelancong dengan sebotol Chang Beer atau para gadis penghibur berparas manis.

Pejalan dari berbagai suku dan bangsa memadati Khaosan Road yang tidak terlalu lebar itu. Dari yang ngalor ngidul nggak jelas untuk sekedar cuci mata, menawar harga termurah dengan para penjual oleh-oleh, duduk di bar terbuka ditemani botol-botol beer dan hingar bingar musik ajojing, sampai yang terbaring pasrah menikmati pijatan Thai di atas lapak-lapak sederhana pinggir jalan.

Gue tenggelam dalam eksplorasi Khaosan Road seorang diri, sedikit mengabaikan dua rekan perjalanan yang dengan sukarela tetap terus mengikuti dari belakang. Suasana hati gue lagi nggak terlalu bagus karena suatu alasan sepele yang terlalu nggak penting namun kompleks untuk diceritakan di sini. Bahahaha. Asli, ini paragraf nggak penting banget.

Berada dalam misi pencarian oleh-oleh untuk keluarga di rumah,  gue melipir ke setiap lapak penjual baju demi mencari lapak dengan harga termurah dan desain yang pas. Rupanya, harga baju di kawasan Khaosan Road berkisar mulai dari 150 THB. Baju yang dijual pun beragam, dari kaos bertema Bangkok atau Thailand, kaos sehari-hari, sampai baju-baju kekinian yang bisa dipakai nongkrong di kampus sebelah. #ehgimana

Masih berada di tengah kebimbangan menentukan lapak termurah, gue menghampiri penjual serangga goreng yang menggelitik rasa penasaran. Paket serangga goreng dijual mulai 60 THB sekantung. Penasaran, tapi bingung menentukan pilihan mau yang mana, nggak yakin serangga mana yang bakal cocok dengan lidah dan perut gue. Sementara penjualnya sendiri nggak menerima pembelian dengan dicampur. Padahal yang campur lebih asyik.

Well, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Memahami Keuangan, gue putuskan untuk — mengambil foto. Tarifnya? 10 THB saja. Jangan harap mereka mau difoto begitu saja dengan cuma-cuma. Begitu sadar ada lensa yang membidik, penjual serangga gorengan itu akan buru-buru menutupi dagangannya dengan telapak tangan dan penutup lainnya sambil melolong, “Nooo. Noooooo! Eneng lelah, bang, difoto doang kagak dibeli, begitu mungkin pikirnya.

Lalu apa kabar dengan baju? Ya, karena gue kebingungan mencari kembali lapak termurah yang sudah ditemukan sebelumnya, gue akhirnya membeli dua potong bebek angsa baju dari sebuah lapak di ujung jalan. Khun-khun berkulit sawo matang itu sedikit nyolot merespon harga yang gue tawar. Kami sepakat dengan harga 280 THB, dari sebelumnya 360 THB. Kurang sadis sik, harusnya 200 THB aja.

Baju didapat, koh Donny lalu membelikan gue sebotol beer kecil untuk mencoba memperbaiki mood. Harganya kalau nggak salah sekitar 60 THB. Rasanya nggak terlalu kuat, masih bisa gue nikmati tanpa ekspresi wajah berlebihan. Yah, it works. Lepas dari Khaosan Road dan berjalan pulang menuju hostel, Dicky membeli beberapa tusuk sate babi pinggir jalan yang cuma dijual seharga 10 THB. Murah bangeeettt!!! Suasana hati gue pun berangsur pulih. Rupanya hanya perlu diobati dengan makan dan minum.

 

Hari pertama di Bangkok berjalan kurang sesuai dengan harapan. Dihadang hujan deras pada sore hari, lalu dilanjutkan dengan agenda nggak jelas saat malam hari. Sesuai itinerary, kami ingin pergi ke Chatuchak Weekend Market malam itu, namun rupanya Pasar Chatuchak tidak buka sampai malam. Lalu gue memutuskan untuk pergi ke Siam, namun nomor bus yang kami tunggu-tunggu menuju Siam tak kunjung datang.

Kebetulan bus nomor 82 melewati halte Banglamphu tempat kami menunggu. Gue berusaha mencoba memahami titik-titik mana saja yang dilalui setiap bus, yang informasinya tertera di sisi badan bus. Bus nomor 82 akan mengantarkan kami menuju Phahurat, lalu gue pun secara impulsif mengalihkan agenda menuju Phahurat. Pada akhirnya, kami sepertinya turun di titik yang salah.

Gagal menemukan Phahurat dan malah terdampar di Flower Market “Pak Khlong Talad”. Kami berjalan tak tentu arah, berusaha mencari Phahurat Road yang sebenarnya.

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Bangkok: BTS / Skytrain, MRT, Airport Link, Chao Praya Express, dan Bus

Rangkuman Tips Jalan-Jalan di Bangkok, Siem Reap, dan Ho Chi Minh City

Namun, di situlah letak keseruan sebuah perjalanan. Saat rencana yang sudah disiapkan ternyata berubah kacau karena perubahan cuaca tak terduga. Saat tujuan yang diinginkan tak ditemukan, dan malah berakhir di tempat tak terduga yang tak kalah menarik. Gue yakin tak ada yang kebetulan. Pada akhirnya, setiap pejalan bijak akan mensyukuri setiap proses perjalanan yang ia lalui. Lalu, ke mana lagi kaki ini akan membawa kami esok hari?

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *